Kamis, 04 Juni 2026

Jadikan aku, anaknya jokowi

 Wahhh

 Aku mau jadi siapa? 

 Ketum partai, wapres, atau sosialita

 Wahhh

 Masa depan cerah tinggal tunjuk

 Seru deh

Kira-kira, apakah saya masih diizinkan menulis puisi ini

Ohh, tentu aku tidak perlu minta izin

Mereka yang izin kepadaku

.

Kaesang

Gibran atau

Mbak kah yang ayu

Ahhh, seru nih

Mohon izin, aku tidak mampu 

Aku hanya suka menulis puisi saja

Love, power & money

Elizabeth 

Elizabeth 

Cleopatra

Oh Mata Hari


Rabu, 03 Juni 2026

Dukaku mendalam

 Masih ingin kusampaikan 

 dukaku yang belum sembuh 

 Atas Aceh, sumbar, Sumut 

 Hutan kalian

 Pohon kalian

 Mata air itu, memberikan kehidupan 

 Air mata itu, sudah kuusap dengan 

 Apa yang aku lakukan, apa yang aku sebut, apa yang aku tulis di sini

 Pelipur lara, 

 Sakit yang tidak kunjung sembuh, sakit mendalam hingga kalbu, sakit hingga ratusan tahun

 Bukan, bukan karena sawit.

 Bukan, bukan karena 

Tapi takdir atas persetujuan. Hitam diatas putih. 


Bapak, Bapak presiden

Aku pikir

Aku pikir lagi

Dan aku pikir - pikir lagi 

Bapak presiden, kepala negara, kepala pemerintahan berarti 

Semua nasib bergantung dengan tanda tangannya

Nasib saya, nasib mereka, nasib ya nasib 

Lalu, udara - langit, tanah - hutan, air - laut semua dalam kendali satu orang

Rakyat, numpang hidup? 

Tunggu tunggu

Aku pikir

Aku pikir lagi

Aku pikir pikir lagi

Rakyat 

Presiden

Negara

Dan pembuat puisi

Lalu ada pembaca puisi

Siapa yang lebih berani ? 

Aku pun takut diculik, takut di siram air keras, takut di kriminalkan

Kenapa jadi menakutkan ? Aku hanya ingin membuat puisi


Pesta babi, pestanya siapa?

Lihatlah anak kecil, menghisap lem

Lalu, anak perempuan hamil atas izin Tuhan tanpa suami, lewat mimpi. Mungkin itu kesalahan AirDrop

Dan para lakon pewayangan, membuat cerita tentang babi 

Babi - babi di kumpulkan dijadikan apa? 

Babi-babi terkumpul dan disuruh menegak air bah

Babi di Papua tidak pernah dan tidak akan menjadi 

-

Kutelusuri sejarah dan kejadian, di mana anak manis yang suka memberi itu dijadikan budak.

Mereka dibesarkan untuk berkata “iya” tanpa perlawanan

Yang melawan diculik dan dibuang tanpa pengenal

Semua yang terlihat manis, kadang berbahaya. Kadang menjadi racun dalam tubuh. Seperti gula yang kamu aduk ke dalam segelas teh hangat di pagi hari.

Sangat nikmat dan mematikan, tetap saja ada penawar yang dicantumkan. Suntikan insulin yang menunda kematian. 

Aku ingat, gadis papua yang kutemui di trotoar kampus yang tidak kusapa. Dia manis, dia memikul harapan dan doa. langkahnya tenang menyusuri cita-cita di hatinya. 

Dia terlihat baik tanpa dendam di wajahnya, memberikan senyuman kecil lewat tatapnya. Gadis itu terlalu indah untuk disebut sebagai 

Ada lagi, kakak. Dia memakai braid berwarna magenta menjuntai hingga ke pinggang. Aku mengelus dan menyentuh keindahan yang tidak kumiliki. Iya, aku tidak memiliki keindahan tanah Papua, bukan berarti aku rela dia diambil orang. 

Diculik, diambil satu persatu, atas nama opm. Merdeka dari siapa ? 

Orang Papua memiliki hak atas tanah Papua, orang Indonesia memiliki hak atas negara Indonesia. Dan Papua adalah NKRI. dan babi-babi itu masih di Papua hendak berpesta.

Aku sebagai anjing pun sedih, saat babi berpesta mungkin aku disuruh menjaga tanah tanah gersang milik tuan. Tidak ada tikus, tidak ada dolar, tapi saya tidak makan dolar.













Rabu, 06 Mei 2026

mbg- g nya menghilang

Hari yang pedih, saat anak anak kelaparan dan pergi sekolah sejauh kilometer
Lalu panas terik membuat 
Kulit mengering dan perut berisi cacing
Apa itu makan ? 
Apa itu sekolah ? 
Saat lapar tidak pernah menjadi kenyang. 

saya adalah bunga

Caraku tumbuh adalah seperti pohon yang berakar kuat berdauh lebat dan berbuah manis. Saya menyukai semua hal keindahan. Bagiku, jalan kehidupan adalah keindahan dan saya memilih jalan menuju taman.
Hari yang menyenangkan dan. Hari yang membuat semua menjadi lebih baik, semua menjadi sebuah mimpi sebuah kasih sayang