Such a calm ocean
In depth of dark
And lure wave
And wind join
In leave
.
Forest and mountain
In oases
And dessert
Maybe snow calling
And waterfall crying
I found you, in heart of khatulistiwa
Such a calm ocean
In depth of dark
And lure wave
And wind join
In leave
.
Forest and mountain
In oases
And dessert
Maybe snow calling
And waterfall crying
I found you, in heart of khatulistiwa
I see river
I see tear
I see fire
I see war
.
My heart
My Soul
My dreams
My live
My step
Belong
.
I see
We see
You see
They see
.
Its been
A good
A bad
And more
Since fire
Burn tear
Bury heart
And hope
We lost
In dust
And ashes
On fairy
But, volume
Keep growing
And accept
Some dolar
And solar
We know, That you know
And we know, you choose not know
Because know and not know is two tone
That close to deaf
And you choose deaf as know
Is hurt you?
To accept fire that burn heart
Is knowing
Allow you speak up
And accept compensation
And teary of fire
On ocean houses
Aku pergi ke dalam lautan
Dan kutemui
Monster
Yang tidak pernah diceritakan
Atau digambarkan
Aku pikir, dia pikir
Saya monster juga
.
I run off
From hand to hand
Home to home
To find my self
That lost on way
And its long way
Beside river, freeze
With no name
No cover up
Just me and breeze
On lay of fame
And lighting
With no clap
I see, my self
Still run off
From my body
That hurt
Within
Mencekam
Saat pijakan mulai bergeser
Dan dinding enggan menahan beban
Lalu luluh
Dan menjadi debu
Tanah pun bergoyang
Rumah
Dan pikiran
Lautan pun
Enggan meluap
.
Meluap lah
Menyembur lah
Bakarlah
Marahlah
Dan menangis
Hingga magma di jantungmu
Mengalir bagai bengawan
Mungkin kamu lelah
Terpendam dalam
Dan mulai menjerit
Tanpa tahu apa abu vulkanik
Yang terbang
Menjangkau awan, menjangkau
Kematian
Look at sky tonight
Look at darkest night
Look at shadow of life
Look at your depth Heart
May be, there is words
That you keep bury beside
Tears, and river
That reflected to your face
That you keep alive
.
I saw face like moon
Always there, with bright
With shadow too
With darkest and light
Or something more depth
With feel, with felt
And none to see in there
On moon of half
Or full moon
.
But, I
Here living inside
The moon of your heart
And your felt that I ease
Because the moon is mine
With all the shadow to reflected on each heart
Adakah hati yang tersesat
Lalu menengadah
Meminta pencipta
Ohh, adakah jalan menuju cahaya
Dan bintang-bintang berkelip
Di malam petang
Dan angin berhembus, membawa kabar
Kepulangan dan rindu
Menjadi satu air mata
Yang mengalir menuju anak sungai
Yang menyirami gerbangnya
Kehidupan cinta para pengelana
Kepada, sang pemilik hati yang tersesat
Apakah kamu tahu jalan pulang?
Atau memang kamu memutus takdir
Yang telah kamu bunuh, sedari janin
Dan tanpa sadar
Kamu mengubur, jiwa yang ingin hidup
Beterbangan, hinggap dipermukaan
Sebagian terhirup
Masuk ke paru paru manusia
Ayam, burung, sapi dan kucing
Dan sebagian hinggap di daun
Yang hijau, lalu layu
Dan tidak berbentuk lagi pohon
Tandus gersang, mendekati kematian
.
Di mana tanggung jawab kamu?
Atas bumi yang kamu gali
Dan kamu jual
Lalu istana megah tempat kamu lelap
Dan menjamu para kolega
.
Bumi itu milik
Rakyat yang tidak pandai bernegosiasi
Tidak mampu menyuarakan hak
Dan kehidupannya sempit
Tetap saja, diracun atas nama ekonomi keberlanjutan
.
Debu itu beterbangan
Atas nama perusahaan
Dan pemerintah yang membubuhkan
Tanda tangan
Lalu yang menelan
Aku, makhluk melata
Yang enggan hidup
UMR
UMR
UMR
UMR
4 juta
Harga rumah
1 M
Beli rumah
1 M : 4.000.000
250 bulan, 20 tahun + 10 bulan
?
Tidak beli rumah, gelandangan
Beli rumah, makan angin
Waktu telah memakan usia
Kutemukan diri
Dalam kuat
Dalam perasaan
Malam
Berselimut bulu
Dimandikan bintang
Ditemani sang raja
Hangat
Dalam tenda kecil
Hanya dengan
Api unggun
Yang dilarang padam
Dan susu telah diminum
Dan mimpi, membangunkan fajar
.
Aku larut
Dalam selimut malam
Dalam hembusan
Dalam lirih doa
Dalam tangisan
.
Malam
Sesunyi ini
mengunci hati
Mengunci pikir
Mengunci kehidupan
Mengunci aku
Aku pun larut dalam malam
Disisimu
Terpendam dalam
Kesunyian
Menyala dalam
Gemerlap kota
Aku adalah ruby
Ruby yang kamu pahat
Bulat, dan memancing mata
Mengkilap
Terpesona.
Ruby itu menjadi milik
Dan kecantikan akan abadi
Di usia yang senja
Dan semakin senja
Bumi yang gersang, bumi yang hampir mati
Bumi yang tandus, bumi yang kering
Merindu akan hujan
Hujan lembut dan terpercaya
Membawa kehidupan
Membawa harapan
.
Puisi
Menjadi pengobat, puisi penyembuh
Puisi kehilangan, puisi kerinduan
Puisi kehormatan
Kepada puisi, sampaikan perasaan rindu
Pada pemilik hati
Yang tidak lagi
Tidur nyenyak
Sampaikan bahwa malam
Menjadi sangat dingin
Siang menjadi panas
Air menjadi asin
Dan bumi kemarau
Kepadamu sang kasih
Jika saja, laut bisa terbelah lagi
Aku akan mencuri
Hati yang engkau asingkan
Rumah Tuhan
Rumah manusia
Rumah dalam mimpi
Dan perjalanan sunyi
.
Kerinduan
Tanpa akhir, tanpa kepastian
Dan panggilan
Adalah kesyukuran
Aku tersesat di lautan pikiran
Menimbun batu, meledak
Dan Lapindo mengusir orang,
Mematahkan cita & cinta
.
Mungkin, katamu yang manis
Sangat menyesatkan hati
Yang teguh pada pertiwi
Menjual demi dolar
Dan meninggalkan rupiah
Yang hendak terjun
Ke dunia baru.
.
Kita tahu, kita pernah
Bahkan masih mengingat
Dan membaca diary
Tentang cerita yang layak
Untuk dikatakan
Bahwa sesat
Adalah perjalanan menuju
Kebenaran
Where is spring water
To make a live
To make flower growing
And tree
And root
And fish
.
I found a spring
But water came a long
With river
And sea
.
I found a spring water
In you
And Build House
That keep us warm
We could do
Little bit about land
And home
That belong to children
Sleep at ease
And dreaming
Beauty day
.
We did
Make a home
That belong
To our origin
And belong to child
And our beloved
How i got touch star
My voices sleep at night shadow
Let me cry on pillow
And forget, tomorow is another day
.
Looked at people
Drawing and sand
Faded by wave
Leave me speachless
How quick, star gone
Like night turn to light
And leave behind curtain
Without notice
Sayang, menjadi lebah ratu
Punya koloni
Dan hanya melahirkan ratu
Semua menjadi
Matriarkat
.
Runut
Tidak mesti benar
Weton
Tanda sebuah zaman
Dan Asmara
Menjadi kisah semolina
.
Tanggal, sebagai tanda
Bukan berarti nasib
Patok menjadi batasan
Bukan penyelamat
.
Pertemuan yang awal
Bermanis ria, dan
Menjalar menjadi kisah,
Terhalang oleh weton
Cerai, tidak bersatu
Atau kematian
Yang menyisakan Lara
.
Jika pernikahan
Ditakdirkan oleh tanggal
Lahir,
Izinkan aku memilih Jodoh
.
Tapi cinta hadir
Dari kata manis,
Peringai yang baik
Dan kejujuran
.
Lalu, aku bisa apa
Memilih cinta yang bersemi
Atau garis weton
Emang bener
pemerintah harus dikritik
Di demo
Di berikan aspirasi
Di
.
Banyak yang perlu
Disadarkan
Dibuatkan kopi
Biar melek
Kalau rapat
.
Takut diculik
Ya udah kita culik aja pemerintahnya
Kayak Trump,
Presiden menculik Presiden
Trump menculik Madurro
Atau kayak
.
Invasif
.
Ini gila sih kalau dibiarkan
.
Siapa temanya presiden kita?
Masalahnya, musuhnya dijadikan teman
.
Tega banget ya,
Atau masa bodoh
Atau sengaja tutup
Mata hidung telinga
Rasa tanggung jawabnya dimana?
.
Kamu keruk loh, bumi
Kamu ambil
Dan itu
Untungnya 100% x 1000%
.
Kenapa
Nggak kamu kasih, jalan
Listrik
Sekolah
Kesehatan
Akses,
.
Sadar sih, kenapa
Mereka ambil pekerja
Dari jauh,
.
Teganya kebangetan,
.
Ada uang,
Ada pemerintah
Ada CSR,
Kok ?
Ya Allah
Semua yang melewati batas,
Malam menjadi selimut
Menjadi tidur
Menjadi dingin
Menjadi hantu
Menjadi sunyi
.
Kok
Ada, manusia menjual manusia
Menjual janji, menjual HAM
Menjual jantung
Dan memnjual negara
Dan menjual ilusi kemakmuran
.
Cerdik sih,
Buat konflik, buat senjata
Biarkan perang
Ambil,
Berikan kemerdekaan
Jual kemerdekaan
Biarkan menjadi abu
Asal cuan
.
Bukan ham yang diberikan
Tapi jual ham demi
Perut Ibu, agar nurut
Itu saja, tapi kelewat batas
Kamu mau jual negara?
Jual negara kecil dari membegal
Kekayaan negara besar
.
Cerdik sih,
Mampu menjadi calo
memberikan garansi
Keamanan, yang tidak aman
.
Tetap saja, kadal
Tetap menjadi kadal
Tidak mampu bermetamorfosis
Menjadi komodo
Mungkin bisa
Punya bisa,
.
Entahlah
Mereka manusia
Tetapi suka memprovokasi
Membakar hati
Membakar duit
Membakar lainnya
.
Curiga deh, sama tetangga sebelahnya
Kan mereka masih satu kelompok
Atau memang sedang berkelompok
Sudah semestinya
Republik menerima rakyat
Yang suka
Memberikan aspirasi
Dan tekanan
Seperti para
Penyair.
Atau para penyokong demokrasi
Menerima demonstran
Dengan lapang
Dan siap dengan segala
Argumennya
.
Itu bagus
Dan uang sebagai
Ongkos jalan bukan
Untuk membungkam
Toh itu uang,
Dipungut dari ayah/ibu
Bertahun -tahun aku mencari jawaban
Kemana uang?
Kemana kekayaan?
Kemana harta karun?
Siapa yang memiliki itu semua?
.
Bukan aku
Bukan 80% rakyat
Bukan negara
Bukan infrastruktur
Lalu siapa?
.
Jawabannya aku temukan
Siapa yang menggali harta karun
Siapa yang duduk tanda tangan
Siapa yang setuju
Dan siapa yang dekat dengan beliau
.
Aku bukan sedih, tapi miris
Harta karun itu sebaiknya dibagi
Digunakan untuk rakyat
Atau dikelola untuk rakyat
Nyatanya,
Dimakan oleh mereka sendiri
.
Rakyat hanya kebagian
Debu
Menggali
Dan kecelakaan
.
Kesehatanpun dirampas
Pendidikan diabaikan
Jalan dibiarkan kumuh
Rumah beralaskan tripleks
Beratapkan seng
Dan dibakar matahari
Lantai yang dipijak
Menjadi dasar
Dan tangga menjadi penghubung
Dan lift langkah tercepat
.
Menjadi puisi, menjadi langit yang luas
Yang menggambarkan bumi
Dan mendengarkan nyanyian
Makhluk hidup
.
Aku bukan puisi,
Yang menceritakan kejadian, akulah
Kejadian itu yang
Berubah menjadi puisi
Lalu kamu baca
Dan tidak kamu pahami
.
Akulah
Kejadian berulang
Yang membosankan untuk menjadi puisi
Karena ini realita
Hilangnya,
Bukan karena kehilangan
Atau ditinggal
Seperti anak ayam
.
Hilangnya
Melepaskan, kata
Kata hati, mata hati
.
Apakah
Sama, saat kehilangan bukan objek
Tapi subjek
Tanpa keterangan,
Hanya kehilangan
Waktu dan situasi
Yang tidak pernah diberikan kata
Penjelasan
Ilusi itu
Menjadi nyata dan tidak nyata
Membuat mata
Menangkap kecantikan
Yang tidak bisa dicopy
Menjadi identitas
Menjadi pribadi
Menjadi icon
.
Ilusi itu
Bewarna harmonis
Menyatu dan indah
Mengkilap
Memantulkan kekaguman
.
Ilusi itu
Ada benci, selain cinta
Dan benci tetap menjadi
Cinta yang terpendam
Menjadi iri
Atas ilusi yang
Tidak pernah meninggalkan
Tuanya
Skies are grey, sometimes dari
Sometimes Clear, sometimes cloudy
Or full thunder
And lighting.
.
Hati yang kamu tipu
Menjadi gelap,
Seperti mata yang hilang
Dan bibir yang bertutur lirih
Dikurangi sedikit,
Masih saja
Namamu, kau ukir di tubuh mulus
Dan wajahmu demikian
.
Cerita gelap, dari hati gelap
Dan hidup dalam kegelapan
Kemana langit, tempat mengadu
Jika gelap adalah pilihannya
.
Sulit dipahami,
Sulit diurut ceritanya
Tetap saja terlalu luka
Tidak sampai
Kata mengapa menjawab
.
Apalagi saat
Perempuan berkomentar
Itu bukan luka, lalu
Yang lain bicara
Mau juga,
Kemana nurani?
.
Berapa kalimat lucu
Terucap
Dan diucap ulang oleh netizen
Dan jadi bahan bakar
. Ohh
Jangan tanya aku?
Lah kamu siapa
. Ohh
Aku diam,
Tapi mulai sekarang
Aku akan
. Ohh
M B G
Buah apa yang manis?
Buah G AJA
Tragis
Dan juga jalan keuangan
Indah
Dan juga banyak kematian
Lara
Dan juga jalan kehidupan
Sedih
Menghidupkan kembali cerita
Tentang orang orang
Yang hidup diantara gunung
Dan menyebrang
Lalu berperang.
Terlalu berani, enggan mati
Menambah kisah,
Menambah catatan sejarah
Menambah pertanyaan
Menambah spekulasi
Dan malu, 😞
.
Seperti itu, dan terus
Begitu. Lalu
Diabetes, atau dia
Atau saya, sayang.
Rasa ini asing
Seperti cerita tentang surga
Yang tidak aku lalui
Atau kulihat
Hanya keindahan dan kesenangan
.
Serasa tidak pasti
Serasa pasti
Serasa mimpi
Tapi dibangun berulang kali
.
Rasa yang ditanamkan
Seperti orkestra
Yang indah dan mengusik
Dan terlena
Lalu hilang
.
Atau aroma yang menguar
Dari perfume
Atau bunga
Atau pulau
Atau lautan
Atau pantai
.
Serasa nyaman dan asing
Dan nyata dan terpendam
Sungguh
Sebuah puisi yang tercipta
Gila, KPK pamer duit
Koruptor
Padahal aku lagi
Bokek
Ihhh, gini amat
.
Jadi
Koruptor enak
Asal
Tidak terdeteksi
Tapi,
Kiat-kiat
Belum diberitakan
Padahal itu penting
Untuk belajar
Agar sukses
Rame betul
Rame sangat
Sampai jadi raja pun,
Masih rame
Perkara asli dan palsu
Dan valid
Aku sih,
Tergantung
Jas merah,
.
Baru saja muncul
Tentang uang, triliunan
Membuatku ngiler
Kok bisa?
Lalu hilang,
Padahal aku masih penasaran
Dan mau minta sedikit
Buat bayar semester akhir,
Atau buat beli sebidang
Tanah negara, lalu dipajaki
Kemana perginya berita?
Uang hasil korupsi
Adakah trik,a gar tidak tertangkap
Mata mata
Yang kamu tebar
Adalah mata mata
.
Propaganda
Yang kamu sebar
Adalah propaganda
.
Hoax yang
Tulis adalah hoax
Yang aku baca
.
Hanya untuk membaca, kadang
Menakuti. Kadang
Angin lalu,
Cerita yang kamu buat terasa benar
Dan terasa realistis
Dan terasa butuh dukungan
Dan dukungan itu dari,
Kamu pilih mana
Menjual nenek
Atau menjual emas
.
Mungkin ini bukan
Tentang harga, tapi pilihan
Atas rumah
Dan gunung
Dan hutan
Dan kepala babi
.
Itu pilihan, bukan berarti
Anda yang memilih, atau saya
Atau setuju
.
Itu tentang kesatuan
Tentang rasa memiliki
Tentang cita cita
Duit, sudah
Mata, sudah
Kaki, sudah
Kepala, sudah
Apa lagi?
Berapa gulden yang kamu bayar
Atas nyawa seorang ayah,
Atas nyawa seorang Ibu
Atas nyawa anak laki-laki
Atas nyawa anak perempuan
Atas nyawa kakek
Atas nyawa nenek
Atas nyawa raja kami
Atas nama Tuhan kami,
Atas nama tanah air kami
Atas nama luka sejarah
Atas nama pahlawan
Dan kemerdekaan
Kamu masih memata-matai kami
Dan akan mengambil semua
Mengapa?
Kamu suka mencuri
Meski hanya namapun, kamu ambil
Mengubah identitas
Akar budaya,
Lalu dunia mengenal
Raflesia,
Kamu tidak punya hak, atas nama
Atas dirimu kecuali ibumu
Atau bapakmu
Dan kamu bukan Ibu
Atau Bapak, atas bunga
Karena tidak lahir di tanah airmu
Apa kami tidak punya nama?
Anak anak, kami beri nama
Begitupun bunga
Sumpah bakti
Telah terucap
Janji-janji kemerdekaan
Sudah tertanda tangani
Dan aku meletakan nyawa
Di ujung senapan
Demi sejengkal tanah yang kumiliki
Lalu, semua pergi
Berlayar, menghilang
Nama nama telah dihapus
Dan rumah rumah telah dibongkar
Aku menghilang
Di negara orang, harapan ketidakpastian
Lalu terbuang
Dan tanpa pengenal
Akupun hilang, hanya sisa pengalaman
Dan sumpah yang dilanggar
Maaf, akulah yang menghilangkan
Semua yang ada di bumimu
Semuanya telah aku makan
Sebagian dimakan anak cucuku
Dan aku cuci tangan
Maaf, katamu.
Saat emas 1000 ton kamu ambil
Lalu meninggalkan kemiskinan
Dan kamu hanya kirimi rongsokan
Dan hanya merasa kasihan
Maaf, itu saja
Saat semua
Arsip kamu curi, lalu engkau menjadi cendekiawan
Dan mengoceh, lalu diam
Dan menyadari
Bahwa nama nama yang kamu
Sisipkan tidak lain, hanya untuk
Menamai dirimu
Tanpa mencantumkan sumber
Bahwa itu hasil curian di perpustakaan
Abadi
Apa itu cukup,
Kamu datang dengan kata tanpa menukar sebuah harga
Ya, ini tetap milik kami, agar aman disini
Aman dari siapa? Kan kamu
Pelakunya
Mereka mencari air, bukan minyak
Atau gas
Atau batubara
Mereka mencari kehidupan
Dengan cara Membuat kematian
Virus
Propaganda, karena mereka tidak
Punya apa apa
Dan aku
Memilih jalan perang
Bukan damai
.
Mereka suka kekacauan
Dengan membuat kedamaian palsu
Sengaja menghitung langkah,
Lalu pergi tanpa jejak
Seakan bencana alam
Lalu
Datang kembali
Mengambil hak
Karena
Kehidupan adalah ujian
Bila saja
Kalender bisa digulung
Dan jam bisa putar balik
Dan rumah berpindah, mungkin
Aku akan menjadi bulan
Agar malam itu menjadi indah
Atau aku menjadi matahari
Agar tetap hangat
Lalu menjadi salju
Agar tetap memelukku
Tapi, ini semua hanya menjadi
Penghibur
Antara langit
Dan bumi
Lalu lautan dan daratan
Yang asing dan bersatu
Dan musim panas berlalu, begitu pula
Dengan janji, menjadi abu
Dan kejadian berulang
Aku tidak melupakan namun memilih
Akhir di sini,
Tidak terhubung kembali
Dan hilang dari rasa
Kusebut namamu
Di manapun kamu berada,
Kutumbuhkan perasaan agar ada di dada
Dan selalu kujadikan kamu
Penenang mata hatiku
.
Cahaya sunyiku
Cahaya relung
Temanku, dan sayangku
Seakan
Kupindahkan sedikit nyawaku untu
Kehidupan
Waktu yang menjadi cerita
Dan bumi yang dipijak
Lalu bulan yang beredar
Aku yang terdiam mengamati
.
Jika saja
Aku melompat tinggi, menuju awan tanpa jatuh
Akankah ada pertemuan dengan aliaen
Seperti cerita tadi sore.
.
Aku adalah cahaya,
Lebih cepat dari suara
Atau hembusan nafasmu
Dan bisikan doamu
Lalu
Tuhan yang kamu ragukan
Sangat dekat
Dan lebih cepat dari aku
Rindu yang kusebut
Adalah rasa sakit yang tertahan dan
Dokter pun enggan mengobati
Lantas, penyakit ini
Hanya membutuhkan sedikit pelukan hangat
.
Apakah akan menjadi air yang menguap
Lalu hilang menjadi awan dan jatuh
Menumbuhkan rasa cinta
Atau seperti angin yang membawa kabar tentang mendung
Yang menurunkan hujan
Atau hanya bintang yang hadir di malam pekat
.
Izinkan aku melihat pagi
Seperti kemarin dan menjadi
Udara segar untuk kejutan
.
Rasa rindu adalah gemuruh langit
Yang membawa kabar hujan
Hariku
Sama dengan harimu
Dan kamu menjadi
Dan akupun menjadi
Lalu kita bertemu dipersimpangan Jalan
Saling menyapa
Sedikit bergosip
Lalu pergi
Bukan untuk menghilang
Atau lupa
Hanya jalan yang kita lalui
Berbeda
Gunung,
Angin
Laut
Patok,
Mungkin sungai yang membawamu kebebasan
Atau burung-burung yang kembali ke sarang di sore hari
Atau owh, yang mulai mengincar di malam hari
Lalu aku yang sengaja berkata tidak, untuk kamu
.
Gunung yang menjulang tinggi, memisahkan lembah
Menjadi jurang yang curam
Angin yang meniup kapal
Membawa kabar kabar dari negeri seberang
Laut yang berombak, melayarkan jiwa - jiwa yang hampir putus asa
Pada harapan hanya untuk yang maha kuasa
Dan patok, yang memisahkan aku dan kamu atas hukum negara
Bagaimana
Aku bisa merasa aman, saat berburu
Kamu pilih diriku
Aku pun ingin hidup
Namun kamu juga
Memilih aku sebagai jamuan
Meski aku adalah hewan
Tapi jiwaku juga ingin hidup
Lebih baik dari itu
Salahkah, jika kamu saja yang aku makan
Tapi aku tidak suka
.
Aku pun berlari diantara kehidupan kehidupan
Dan memilih jalur tersembunyi agar
Kamu tidak menemuiku
Kamu mulai mengendus jejak
Yang kulalui
Seperti bau badanku yang tertinggal diantara rerumputan
Dan kamu mulai
Mencari jalur kehidupan
Yang telah aku hindarkan
Hanya untuk menangkapku
Pilihlah aku untuk melaju
Menuju timur dari sini
Dan membuat
Istana dari kehidupan
Yang aku susun dari
Mimpiku semalam
Dari cermin aku lihat
Diriku
Yang tidak seperti aku
Dan aku bukanlah diriku
Kurengkuh waktu yang membuat aku
Merasa kehilangan
Dan terlupakan olehnya
Janji janji telah membuatku
Merasa hilang dari
Hingga kupenuhi
Jiwaku dengan rasa
Dihilangkan
Oleh Ibu.
.
Ibu jika kehilangan adalah rasa sakit
Mengapa aku harus hilang dari peluk hangat
Aku merasa dingin dengan rindu yang tidak pernah
Disampaikan oleh kertas
Dan aku hilang tanpa tahu kemana harus kembali
Apakah ini sengaja?
Untuk dihilangkan oleh
Cecil, Cecil kupanggil nama kecil mu
Dan kamu sudah tidak pernah mau menoleh
Dan aku menjadi kekasihmu
Sedari kita bertemu
Yang aku mau,
Yang kita percayakan bersama
Dan selamanya
Dan itu aku bersamamu yang aku sebut
Bagian dari sayangku dan sayang kita
Yang kita rindukan sepanjang
Malam dan gelapnya hati
.
Cecil, Cecil
Bisu adalah anak panah
Melukai kata kata manis kita dulu
Yang membuat kamu mau
Selalu
Dalam pelukan kita
Kamu yang takut kehilangan
Aku yang aku cengkram
Kamu yang malas
Aku yang kamu perbudak
Kamu yang bodoh
Aku yang kamu bodohi
Lalu
Fungsi aku sebagai
Betul - betul
Jika saya adalah saya
Dan kamu adalah kamu
Lalu
Kenapa saya yang patuh
Dan kamu suka suka
Atas nama …
Undur diri
Siapa yang melarang
Saat itu adalah larangan
Mengapa dilarang
Hanya karena
-
Banyak larangan larangan
Yang menguntungkan bagi A
Merugikan B berkedok
Sayang, melindungi, selamat
Ahhh, siapa korban itu?
Bila saja uang adalah kecantikan
Dan baju adalah kemakmuran
Apakah kamu masih menahan diri
Untuk menjadi dirimu
Apakah itu sudah cukup
Agar kamu menerima sebuah
Rasa hati yang tulus
Dan bakti
Pada tubuh yang bekerja keras
Menopang agar kamu hidup
Jika uang adalah harga
Mengapa kecantikan itu lenyap
Tanpa disebut sebagai kebahagiaan
Izinkan
Teruntuk para pembaca
Izinkan aku menyapa
Bintang berkelip di malam
Yang menambah keindahan
Adalah kalian
Bagiku, sebuah kehormatan
Ada penikmat puisi yang tulus
Dan kegembiraan
Kalian menyukai baris baris kaku
Dan ketakutan
Saat jari mulai ikut basa basi
Dengan kejadian hari ini
Rasa syukur
Saat tahu
Kunjungan kalian adalah inisiatif
..
Jejak itu nampak dari
Foot Print
Aroma tubuh yang menguar
Sentuhan
Air liur
Dan
Tertinggal
Jejak itu membawa cerita
Dari kata
Dari waktu
Dan residu
Pohon
Bunga
Dan aku
Mungkin burung tekukur
Pohon mangga yang aku tanam, menjadi besar dan berbuah manis dan sudah ditebang kemarin
Bunga yang aku tanam dan kutinggalkan merantau, semoga dia baik baik saja
Aku disini yang hobi menulis puisi
Burung tekukur yang aku bawa pulang tidak mau makan sendiri, membuat aku sedih
Garis garis kehidupan, seperti jalan yang sengaja diciptakan
Entah Tuhan, entah manusia
Jalan jalan itu panjang
Jalan jalan itu penuh cerita
Jalan jalan itupun ditanami bunga
Izinkan burung tekukur kau bernyanyi
Janji alam
Kepada kecantikan, padamu aku mengiba
Rasa sayang, sebagai penghibur hati
Rasa cinta yang menenggelamkan hati
Dan waktu yang mencuri
Aku katakan kepada sang pemilik kecantikan,
Jika aku adalah pemilik
Dan engkau enggan memiliki
Pudarlah sang dewi
Terkena cahaya dan gelap menyelimuti
Jika aku sudah tidak bisa
Membuat puisi lagi, ingin kukatakan
Bahwa, cintaku pada puisi
Tidak pernah sirna
Aku izinkan
Semua makhluk yang bernyawa
Menuliskan puisi
Tentang hati, yang selalu hati-hati
Tentang kata, yang selalu berkata-kata dalam diam
Dan pikir, yang selalu pikir-pikir dahulu
Dan, jari jemari tetap menari dengan keindahan lewat kata
Aku mau, puisiku sehidup dengan umur dunia, membasuh waktu
Yang menjadikan sejarah
Tetap terbaca kan oleh detik.
Ya, aku mau
Menulis puisi hingga aku tidak menulis lagi
Tidak ada yang gratis
Termasuk M B G
lantas, bapak siapa yang bayar?
Bapak siapa, yang memberikan ide kata gratis
Tis
Bapak siapa,
Makanan bergizi, hak semua W N I
yang keracunan M B G siapa?
G nya, dari mana ?
Siapa yang beli kata G ? Tidak beli
Jika gratis, dari mana ?
Apakah itu tidak pakai dolar seperti orang desa?
Pakai apa, sayang? $olar
Ah, aku pusing memakai huruf G,
bisakah aku hapus dari, puisiku
Atau ini sebuah pemaksaan, dari M B G
Makan, sudah benar
Bergizi, tepat
G, apa? Tidak boleh kata gratis
Lalu, aku khawatir. Anakku pula yang makan M B (tidak pakai G)
Maafkan ibu, ibu tidak mampu menghilangkan jejak jejak kesedihan
Wahhh
Aku mau jadi siapa?
Ketum partai, wapres, atau sosialita
Wahhh
Masa depan cerah tinggal tunjuk
Seru deh
Kira-kira, apakah saya masih diizinkan menulis puisi ini
Ohh, tentu aku tidak perlu minta izin
Mereka yang izin kepadaku
.
Kaesang
Gibran atau
Mbak kah yang ayu
Ahhh, seru nih
Mohon izin, aku tidak mampu
Aku hanya suka menulis puisi saja
Elizabeth
Elizabeth
Cleopatra
Oh Mata Hari
Masih ingin kusampaikan
dukaku yang belum sembuh
Atas Aceh, sumbar, Sumut
Hutan kalian
Pohon kalian
Mata air itu, memberikan kehidupan
Air mata itu, sudah kuusap dengan
Apa yang aku lakukan, apa yang aku sebut, apa yang aku tulis di sini
Pelipur lara,
Sakit yang tidak kunjung sembuh, sakit mendalam hingga kalbu, sakit hingga ratusan tahun
Bukan, bukan karena sawit.
Bukan, bukan karena
Tapi takdir atas persetujuan. Hitam diatas putih.
Aku pikir
Aku pikir lagi
Dan aku pikir - pikir lagi
Bapak presiden, kepala negara, kepala pemerintahan berarti
Semua nasib bergantung dengan tanda tangannya
Nasib saya, nasib mereka, nasib ya nasib
Lalu, udara - langit, tanah - hutan, air - laut semua dalam kendali satu orang
Rakyat, numpang hidup?
Tunggu tunggu
Aku pikir
Aku pikir lagi
Aku pikir pikir lagi
Rakyat
Presiden
Negara
Dan pembuat puisi
Lalu ada pembaca puisi
Siapa yang lebih berani ?
Aku pun takut diculik, takut di siram air keras, takut di kriminalkan
Kenapa jadi menakutkan ? Aku hanya ingin membuat puisi
Lihatlah anak kecil, menghisap lem
Lalu, anak perempuan hamil atas izin Tuhan tanpa suami, lewat mimpi. Mungkin itu kesalahan AirDrop
Dan para lakon pewayangan, membuat cerita tentang babi
Babi - babi di kumpulkan dijadikan apa?
Babi-babi terkumpul dan disuruh menegak air bah
Babi di Papua tidak pernah dan tidak akan menjadi
-
Kutelusuri sejarah dan kejadian, di mana anak manis yang suka memberi itu dijadikan budak.
Mereka dibesarkan untuk berkata “iya” tanpa perlawanan
Yang melawan diculik dan dibuang tanpa pengenal
Semua yang terlihat manis, kadang berbahaya. Kadang menjadi racun dalam tubuh. Seperti gula yang kamu aduk ke dalam segelas teh hangat di pagi hari.
Sangat nikmat dan mematikan, tetap saja ada penawar yang dicantumkan. Suntikan insulin yang menunda kematian.
Aku ingat, gadis papua yang kutemui di trotoar kampus yang tidak kusapa. Dia manis, dia memikul harapan dan doa. langkahnya tenang menyusuri cita-cita di hatinya.
Dia terlihat baik tanpa dendam di wajahnya, memberikan senyuman kecil lewat tatapnya. Gadis itu terlalu indah untuk disebut sebagai
Ada lagi, kakak. Dia memakai braid berwarna magenta menjuntai hingga ke pinggang. Aku mengelus dan menyentuh keindahan yang tidak kumiliki. Iya, aku tidak memiliki keindahan tanah Papua, bukan berarti aku rela dia diambil orang.
Diculik, diambil satu persatu, atas nama opm. Merdeka dari siapa ?
Orang Papua memiliki hak atas tanah Papua, orang Indonesia memiliki hak atas negara Indonesia. Dan Papua adalah NKRI. dan babi-babi itu masih di Papua hendak berpesta.
Aku sebagai anjing pun sedih, saat babi berpesta mungkin aku disuruh menjaga tanah tanah gersang milik tuan. Tidak ada tikus, tidak ada dolar, tapi saya tidak makan dolar.