Hariku
Sama dengan harimu
Dan kamu menjadi
Dan akupun menjadi
Lalu kita bertemu dipersimpangan Jalan
Saling menyapa
Sedikit bergosip
Lalu pergi
Bukan untuk menghilang
Atau lupa
Hanya jalan yang kita lalui
Berbeda
Hariku
Sama dengan harimu
Dan kamu menjadi
Dan akupun menjadi
Lalu kita bertemu dipersimpangan Jalan
Saling menyapa
Sedikit bergosip
Lalu pergi
Bukan untuk menghilang
Atau lupa
Hanya jalan yang kita lalui
Berbeda
Gunung,
Angin
Laut
Patok,
Mungkin sungai yang membawamu kebebasan
Atau burung-burung yang kembali ke sarang di sore hari
Atau owh, yang mulai mengincar di malam hari
Lalu aku yang sengaja berkata tidak, untuk kamu
.
Gunung yang menjulang tinggi, memisahkan lembah
Menjadi jurang yang curam
Angin yang meniup kapal
Membawa kabar kabar dari negeri seberang
Laut yang berombak, melayarkan jiwa - jiwa yang hampir putus asa
Pada harapan hanya untuk yang maha kuasa
Dan patok, yang memisahkan aku dan kamu atas hukum negara
Bagaimana
Aku bisa merasa aman, saat berburu
Kamu pilih diriku
Aku pun ingin hidup
Namun kamu juga
Memilih aku sebagai jamuan
Meski aku adalah hewan
Tapi jiwaku juga ingin hidup
Lebih baik dari itu
Salahkah, jika kamu saja yang aku makan
Tapi aku tidak suka
.
Aku pun berlari diantara kehidupan kehidupan
Dan memilih jalur tersembunyi agar
Kamu tidak menemuiku
Kamu mulai mengendus jejak
Yang kulalui
Seperti bau badanku yang tertinggal diantara rerumputan
Dan kamu mulai
Mencari jalur kehidupan
Yang telah aku hindarkan
Hanya untuk menangkapku
Pilihlah aku untuk melaju
Menuju timur dari sini
Dan membuat
Istana dari kehidupan
Yang aku susun dari
Mimpiku semalam
Dari cermin aku lihat
Diriku
Yang tidak seperti aku
Dan aku bukanlah diriku
Kurengkuh waktu yang membuat aku
Merasa kehilangan
Dan terlupakan olehnya
Janji janji telah membuatku
Merasa hilang dari
Hingga kupenuhi
Jiwaku dengan rasa
Dihilangkan
Oleh Ibu.
.
Ibu jika kehilangan adalah rasa sakit
Mengapa aku harus hilang dari peluk hangat
Aku merasa dingin dengan rindu yang tidak pernah
Disampaikan oleh kertas
Dan aku hilang tanpa tahu kemana harus kembali
Apakah ini sengaja?
Untuk dihilangkan oleh
Cecil, Cecil kupanggil nama kecil mu
Dan kamu sudah tidak pernah mau menoleh
Dan aku menjadi kekasihmu
Sedari kita bertemu
Yang aku mau,
Yang kita percayakan bersama
Dan selamanya
Dan itu aku bersamamu yang aku sebut
Bagian dari sayangku dan sayang kita
Yang kita rindukan sepanjang
Malam dan gelapnya hati
.
Cecil, Cecil
Bisu adalah anak panah
Melukai kata kata manis kita dulu
Yang membuat kamu mau
Selalu
Dalam pelukan kita
Kamu yang takut kehilangan
Aku yang aku cengkram
Kamu yang malas
Aku yang kamu perbudak
Kamu yang bodoh
Aku yang kamu bodohi
Lalu
Fungsi aku sebagai
Betul - betul
Jika saya adalah saya
Dan kamu adalah kamu
Lalu
Kenapa saya yang patuh
Dan kamu suka suka
Atas nama …
Undur diri
Siapa yang melarang
Saat itu adalah larangan
Mengapa dilarang
Hanya karena
-
Banyak larangan larangan
Yang menguntungkan bagi A
Merugikan B berkedok
Sayang, melindungi, selamat
Ahhh, siapa korban itu?
Bila saja uang adalah kecantikan
Dan baju adalah kemakmuran
Apakah kamu masih menahan diri
Untuk menjadi dirimu
Apakah itu sudah cukup
Agar kamu menerima sebuah
Rasa hati yang tulus
Dan bakti
Pada tubuh yang bekerja keras
Menopang agar kamu hidup
Jika uang adalah harga
Mengapa kecantikan itu lenyap
Tanpa disebut sebagai kebahagiaan
Izinkan
Teruntuk para pembaca
Izinkan aku menyapa
Bintang berkelip di malam
Yang menambah keindahan
Adalah kalian
Bagiku, sebuah kehormatan
Ada penikmat puisi yang tulus
Dan kegembiraan
Kalian menyukai baris baris kaku
Dan ketakutan
Saat jari mulai ikut basa basi
Dengan kejadian hari ini
Rasa syukur
Saat tahu
Kunjungan kalian adalah inisiatif
..
Jejak itu nampak dari
Foot Print
Aroma tubuh yang menguar
Sentuhan
Air liur
Dan
Tertinggal
Jejak itu membawa cerita
Dari kata
Dari waktu
Dan residu
Pohon
Bunga
Dan aku
Mungkin burung tekukur
Pohon mangga yang aku tanam, menjadi besar dan berbuah manis dan sudah ditebang kemarin
Bunga yang aku tanam dan kutinggalkan merantau, semoga dia baik baik saja
Aku disini yang hobi menulis puisi
Burung tekukur yang aku bawa pulang tidak mau makan sendiri, membuat aku sedih
Garis garis kehidupan, seperti jalan yang sengaja diciptakan
Entah Tuhan, entah manusia
Jalan jalan itu panjang
Jalan jalan itu penuh cerita
Jalan jalan itupun ditanami bunga
Izinkan burung tekukur kau bernyanyi
Janji alam
Kepada kecantikan, padamu aku mengiba
Rasa sayang, sebagai penghibur hati
Rasa cinta yang menenggelamkan hati
Dan waktu yang mencuri
Aku katakan kepada sang pemilik kecantikan,
Jika aku adalah pemilik
Dan engkau enggan memiliki
Pudarlah sang dewi
Terkena cahaya dan gelap menyelimuti
Jika aku sudah tidak bisa
Membuat puisi lagi, ingin kukatakan
Bahwa, cintaku pada puisi
Tidak pernah sirna
Aku izinkan
Semua makhluk yang bernyawa
Menuliskan puisi
Tentang hati, yang selalu hati-hati
Tentang kata, yang selalu berkata-kata dalam diam
Dan pikir, yang selalu pikir-pikir dahulu
Dan, jari jemari tetap menari dengan keindahan lewat kata
Aku mau, puisiku sehidup dengan umur dunia, membasuh waktu
Yang menjadikan sejarah
Tetap terbaca kan oleh detik.
Ya, aku mau
Menulis puisi hingga aku tidak menulis lagi
Tidak ada yang gratis
Termasuk M B G
lantas, bapak siapa yang bayar?
Bapak siapa, yang memberikan ide kata gratis
Tis
Bapak siapa,
Makanan bergizi, hak semua W N I
yang keracunan M B G siapa?
G nya, dari mana ?
Siapa yang beli kata G ? Tidak beli
Jika gratis, dari mana ?
Apakah itu tidak pakai dolar seperti orang desa?
Pakai apa, sayang? $olar
Ah, aku pusing memakai huruf G,
bisakah aku hapus dari, puisiku
Atau ini sebuah pemaksaan, dari M B G
Makan, sudah benar
Bergizi, tepat
G, apa? Tidak boleh kata gratis
Lalu, aku khawatir. Anakku pula yang makan M B (tidak pakai G)
Maafkan ibu, ibu tidak mampu menghilangkan jejak jejak kesedihan
Wahhh
Aku mau jadi siapa?
Ketum partai, wapres, atau sosialita
Wahhh
Masa depan cerah tinggal tunjuk
Seru deh
Kira-kira, apakah saya masih diizinkan menulis puisi ini
Ohh, tentu aku tidak perlu minta izin
Mereka yang izin kepadaku
.
Kaesang
Gibran atau
Mbak kah yang ayu
Ahhh, seru nih
Mohon izin, aku tidak mampu
Aku hanya suka menulis puisi saja
Elizabeth
Elizabeth
Cleopatra
Oh Mata Hari
Masih ingin kusampaikan
dukaku yang belum sembuh
Atas Aceh, sumbar, Sumut
Hutan kalian
Pohon kalian
Mata air itu, memberikan kehidupan
Air mata itu, sudah kuusap dengan
Apa yang aku lakukan, apa yang aku sebut, apa yang aku tulis di sini
Pelipur lara,
Sakit yang tidak kunjung sembuh, sakit mendalam hingga kalbu, sakit hingga ratusan tahun
Bukan, bukan karena sawit.
Bukan, bukan karena
Tapi takdir atas persetujuan. Hitam diatas putih.
Aku pikir
Aku pikir lagi
Dan aku pikir - pikir lagi
Bapak presiden, kepala negara, kepala pemerintahan berarti
Semua nasib bergantung dengan tanda tangannya
Nasib saya, nasib mereka, nasib ya nasib
Lalu, udara - langit, tanah - hutan, air - laut semua dalam kendali satu orang
Rakyat, numpang hidup?
Tunggu tunggu
Aku pikir
Aku pikir lagi
Aku pikir pikir lagi
Rakyat
Presiden
Negara
Dan pembuat puisi
Lalu ada pembaca puisi
Siapa yang lebih berani ?
Aku pun takut diculik, takut di siram air keras, takut di kriminalkan
Kenapa jadi menakutkan ? Aku hanya ingin membuat puisi
Lihatlah anak kecil, menghisap lem
Lalu, anak perempuan hamil atas izin Tuhan tanpa suami, lewat mimpi. Mungkin itu kesalahan AirDrop
Dan para lakon pewayangan, membuat cerita tentang babi
Babi - babi di kumpulkan dijadikan apa?
Babi-babi terkumpul dan disuruh menegak air bah
Babi di Papua tidak pernah dan tidak akan menjadi
-
Kutelusuri sejarah dan kejadian, di mana anak manis yang suka memberi itu dijadikan budak.
Mereka dibesarkan untuk berkata “iya” tanpa perlawanan
Yang melawan diculik dan dibuang tanpa pengenal
Semua yang terlihat manis, kadang berbahaya. Kadang menjadi racun dalam tubuh. Seperti gula yang kamu aduk ke dalam segelas teh hangat di pagi hari.
Sangat nikmat dan mematikan, tetap saja ada penawar yang dicantumkan. Suntikan insulin yang menunda kematian.
Aku ingat, gadis papua yang kutemui di trotoar kampus yang tidak kusapa. Dia manis, dia memikul harapan dan doa. langkahnya tenang menyusuri cita-cita di hatinya.
Dia terlihat baik tanpa dendam di wajahnya, memberikan senyuman kecil lewat tatapnya. Gadis itu terlalu indah untuk disebut sebagai
Ada lagi, kakak. Dia memakai braid berwarna magenta menjuntai hingga ke pinggang. Aku mengelus dan menyentuh keindahan yang tidak kumiliki. Iya, aku tidak memiliki keindahan tanah Papua, bukan berarti aku rela dia diambil orang.
Diculik, diambil satu persatu, atas nama opm. Merdeka dari siapa ?
Orang Papua memiliki hak atas tanah Papua, orang Indonesia memiliki hak atas negara Indonesia. Dan Papua adalah NKRI. dan babi-babi itu masih di Papua hendak berpesta.
Aku sebagai anjing pun sedih, saat babi berpesta mungkin aku disuruh menjaga tanah tanah gersang milik tuan. Tidak ada tikus, tidak ada dolar, tapi saya tidak makan dolar.